Menghajar Tuyul

Masih ingat betul aku pada kejadian malam itu. Mungkin terjadi sekitar tahun 1999 yang lalu. Malam itu ada Aku, Arius, Ifan, Indra, Aris, Ciblek, dll (miss u All !). "Wah, Kemarin kemana aja Nop, kamu ketinggalan cerita seru !" Kata Arius. "Apaan?" Tanyaku. "Kemarin kita MENGHAJAR TUYUL !!!"

"Hah? TUYUL? Yang Bener? "

Dan mengalirlah cerita mereka tentang Tuyul yang mereka hajar di depan RS. Panti Rapih Jogjakarta. Katanya Tuyulnya ada 2, yang satu sedikit lebih besar dari yang satunya lagi. Warnanya item, mukanya nggak keliatan. Mereka kecil sekali, mungkin hanya setinggi 30 Cm. "Suaranya gimana?" tanyaku. " Ya gimana ya,..Bruakk Bruakk Blagg !!! gitu" kata Indra.Emang dasarnya aku serba penasaran ama hal-hal "Mistik" kayak ginian langsung bawaannya nyesel aja, kenapa kemaren absen nggak nongkrong di Basecamp kami  di sekitar jalan Kaliurang. Akhirnya Aris sang suhu mengajakku ikut berburu pada malam berikutnya. Tapi ada syaratnya! Apa syaratnya? Orang yang mau liat Tuyul harus berjumlah Ganjil. Lebih banyak lebih baik, tapi tetep harus ganjil. Mereka keluar setelah lewat tengah malam, artinya diatas jam 12 malam. Terus kalo mau liat, salah satu dari kaki kita harus menyentuh tanah, tidak boleh pake sendal atau sepatu. " Dan satu lagi,.. " kata Aris. " Apapun yang terjadi, JANGAN SAMPE LARI!" katanya. "Kenapa?" tanyaku penasaran. "Ya pokoknya jangan lari, itu aja!"

Aku setuju. Akhirnya malam berikutnya aku kontak temen2ku yang lain untuk ikutan. Sisanya temen2 Aris dan Indra yang juga penasaran pengin ikut. Total ada 13 orang yang datang malam itu. Bagaimana denganku? Jelas aku udah prepare buat malam itu. Pagi2 aku udah beli film Kodak buat memotret Tuyul, karena kata Aris :"mungkin bisa sih difoto, aku juga nggak tau". Aku tidak mau kehilangan moment, aku udah load full film asa 200an di kameraku. Baterai Blitz kuganti dengan yang baru, mengingat moment tengah malam pasti gelap banget. Yang tidak jadi kubawa adalah ember! Kenapa? karena aku nggak punya yang ukuran kecil, kan lucu kalo bawa ember biruku yang ukurannya jumbo. Akhirnya aku batal bawa ember meskipun aku pingin banget kalo tuyul itu bisa ditangkap mau tak masukin ember. "Mungkin bisa aja sih kalo mau dibawa, asal nggak ketahuan pemiliknya aja" kata Aris. Tapi akhirnya kubatalkan saja embernya. Jadi malem itu perlengkapanku paling komplit! Celana Jeans, sandal jepit buat mukulin tuyul, dan tentu saja  FM10Nikon-ku + Blitz seadanya. Dan kamipun berangkat. Seingatku ada beberapa motor dan satu mobil malam itu.

hanya sekitar 5 menitan, dan kamipun sampai di lokasi. Motor dan mobil kami parkir berderet di pinggir jalan depan RS Panti Rapih. Sayangnya waktu itu masih sekitar jam 11 malam, jadi kami harus menunggu sekitar 1 jam lagi. Jalanan udah sepi karena seingatku habis gerimis. Aris sang suhu menyuruh kami duduk-duduk dulu di trotoar sambil nunggu. Sementara dia sendiri duduk agak menjauh, entah apa yang sedang diucapkan atau di-rapalkannya. Kami menurut aja karena emang Aris yang kami tuakan. Jalanan tambah sepi, hanya beberapa pedagang yang pulang setelah menutup tenda kaki limanya.

Jam 12 Lebih sedikit. Dan Aris berkata:"Ayo sekarang".

Kami ber-13 mulai bersiap. Aris kembali menegaskan :"Pokoknya apapun yang terjadi nanti, JANGAN LARI". Kami hanya mengangguk. Dan mulailah malam itu kami berburu TUYUL!. Seperti syarat yang udah disepakati, kami harus menggulung celana kami dan melepas salah satu sandal kami agar kaki kaki bisa menyentuh tanah. Aku juga. Kugulung jeansku setinggi lutut. Terus sendal jepitku yang kanan kupegang ditangan siap memukul. Tangan kiriku memegang kamera dengan posisi Blitz : ON! Dan kami mulai berjalan menyisir. Karena Jalanan sepi kami benar-benar bisa berjajar hingga memenuhi jalan. Persis orang mau tawuran. Bahkan ada beberapa pedagang pulang menatap dengan heran, mungkin pikirnya mau pada ngapain orang-orang ini? Ah mas, kamu nggak tau!! Dan kami terus berjalan. Kulihat Aris Berada di deret tengah sambil dieeem aja, entah apa yang dipikirkannya.Tapi matanya sambil melirik-lirik kami, kami jadi tambah tegang. Apalagi aku! Aku udah mengokang kameraku hingga tinggal jepret aja. Dan kami terus berjalan menyisir pelan-pelan.

Dan kemudian terjadilah!

Setelah sekitar 200 m kami berjalan, Aris sang suhu berteriak dan lari ke depan…"Itu, Itu dia!!!! Aris lari ke depan diikuti teman-teman yang lain kemudian berbelok sedikit ke kanan, tepatnya di sekitar pinggiran trotoar sebelah kanan, kemudian berteriak sambil melompat diikuti temen2 yang lain"AAAA..!!!!" dan benar muncul suara "Bruak..Bruakkkk Bruakk!!!!" keras sekali seperti sesuatu yang dipukul dengan sandal keras-keras, sangat keras!!!! Kemudian mereka tertawa-tawa dan berlari menjauh. Aku kebingungan sambil memegangi kameraku,karena aku merasa tidak melihat apa-apa!! Namun ketika aku lihat benar kearah kanan, tempat mereka berteriak dan memukul……..Ah!!!

Mau tau seperti apa TUYUL YANG KAMI PUKULI? Seperti ini nih !!!

Memang benar adanya : Ada 2, yang satu lebih besar dari yang lain, tinggi sekitar 30 cm, warna hitam, muka nggak keliatan, kalo dipukul suaranya BRUAKK..BRUAKK!! bisa difoto, dan..AHHH Untung aku nggak jadi BAWA EMBERR!!!

 

#Jogja 1999. Apa Kabar kawan? Good Luck To You All!! 

 

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://nopkast.blogsome.com/2006/11/07/menghajar-tuyul/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.