Gerald, Adekku (juga)
"Mas, kalau orang Islam itu tetep boleh ya berteman dengan orang Kristen?"
Hah? Pernah nggak ditanyain seorang anak kecil kira-kira kelas 2 SD tentang hal-hal seperti itu, yang harus ekstra hati2 dijawab? Masih ingat aku ketika pulang, ibu bilang "kamu tadi dicari Gerald, udah berulang kali main ke sini nanyain kapan kamu pulang". Anak itu memang sering main ke rumahku. Dan awal ketertarikanku padanya adalah tentang pertanyaan-pertanyaannya yang menurutku "super-kritis", artinya aku tidak boleh asal menjawab hal-hal yang pengin dia tahu.
Frank Gerald Pittard. Namanya emang western karena emang bapaknya bule. Waktu itu dia masih berusia sekitar (berapa tahun ya?), seingatku seumuran anak kelas 2 SD lah. Dia tinggal bersama Mamanya, kost di sekitar depan rumahku. Anaknya ganteng, rambutnya jabrik, dan lucu. Dia sering main ke rumah dan bercakap-cakap dengan bapak-ibuku yang dipanggilnya dengan sebutan PakDhe dan Budhe. Masih dengan gayanya yang polos dan khas : menanyakan hal-hal seputar Aqidah dll. Beberapa kali aku dibuatnya tidak bisa menjawab, hehehehe. Udah pengetahuan agamaku Cethek, masih harus hati-hati pula.
Sampai suatu hari dia menarik-narik tangan mamanya, untuk dikenalkan pada PakDhe dan Budhe, alias Bapak dan Ibuku. Dan akhirnya : Gerald tinggal di rumahku. Dia tidur di kamar atas yang kebetulan kosong. Keliatanyan dia seneeng banget sewaktu ibuku bilang boleh tinggal di rumahku, asalkan harus nurut. Anak ini emang ceriwis. Omongannya kadang kayak orang tua, dan dia pintar bergaya. Aku bisa prediksi, kelak dia bisa jadi model atau apa-apa yang berkaitan dengan seni akting, atau puisi dll. Apalagi darah western-nya punya kans besar untuk postur tubuh yang bagus. Memang itulah kelebihannya. Bagus dan luwes kalo difoto, pinter ngomong. hanya saja dia lemah sekali dalam pelajaran. gurunya sudah kewalahan. Sampai akhirnya Bapak-Ibuku memutuskan memberikan les privat di rumah. Kebetulan ada teman ibuku yang bersedia datang mengajar tiap malam.
Tapi yang namanya Gerald ini memang butuh perhatian ekstra. Tiap kali diajarin, selaluu ada aja alasannya. Dari laper, pusing , sampe dzikir! Hah??? Antara tertawa dan menangis guru les Gerald cerita betapa susah menggiringnya untuk konsentrasi ke pelajaran. dari perut sakit, pusing, belum makan, sampai lupa belum dzikir!, hehehehehe emang pinter omong anak ini!
Sampai suatu hari guru lesnya bilang tidak sanggup lagi mengajarinya. Akhirnya les berhenti. Pernah juga ikut Drumband, dan pernah bilang kalo pengin jadi pemain drum, wah tunggu SMP dulu le! Tapi Gerald tetap mengaji. Dia selalu keliatan ganteng dengan peci putihnya. Uang sakunya dibelikan buku-buku kecil sejarah para Nabi.
Dan panjang ceritanya sampai akhirnya Gerald tidak lagi tinggal di rumahku. Meskipun aku tau dia masih pingin tinggal di rumah. Sekarang aku tidak tau dimana dia tinggal. Aku cuma berharap dia dapat tempat yang lebih baik, seseorang yang sabar membimbingnya, dan pendidikan yang mengarahkannya ketempat dimana potensinya berada. Kadang aku teringat dia kalo mau ma’mum sholat dia selalu membaca Adzan dan Qomad. Suaranya bagus. Juga ketika aku bilang "Ayo jangan lupa", dan dia akan membaca do’a untuk orang tuanya. Sungguh, banyak potensi yang bisa dikembangkan dari anak ini.
Where are u now? Kamu tetap boleh main ke rumahku, mudah-mudahan selalu ada kue di rumah. Jangan berkecil yati yo le, banyak hal yang bisa kamu raih, karena kamu sangat-sangat berpotensi. Keep on the right way, Mas cuma bisa doain, Semoga Allah melindungi dan membimbingmu selalu menjadi yang terbaik untuk ditunjukkan pada teman-teman dan juga Orang Tuamu!
