Turtles Can Fly

 
 
" Dunia anak-anak yang tak pernah saya bayangkansebelumnya.Benarkah di sisi lain dunia sana anak-anak harus berjuang sedemikian kerasnya, sedemikian beraninya menerjang resiko yang barangkali bagi mereka sudah tidak menakutkan lagi? Ranjau! Bagaimana benda semengerikan itu seolah menjadi tumpuan harapan hidup mereka, bahkan menjadi nafkah bagi keluarganya, bagi adik-adiknya…? Film yang menyentuh…sungguh, bukan film yang cengeng! " Strongly recomended *****
 
Kisah tentang anak-anak pengungsi di perbatasan Irak (Kurdi) - Turki sebelum era kejatuhan Saddam Hussein. Hidup dalam tenda-tenda darurat dan serba keterbatasan. Mata pencaharian mereka adalah mengumpulkan ranjau-ranjau darat dibawah kepemimpinan seorang bocah (luar biasa) yang dijuluki Satellite,untuk dijual kembali sebagai besi tua di pasar loak. Dengan begitu mereka memperoleh uang untuk menafkahi keluarganya. Satelitte merupakan sosok pemimpin bagi bocah-bocah itu karena kepandaiannya berbahasa asing dan pintar meloby. Dia juga pintar menangani barang elektronik, sehingga dipercaya oleh orang-orang untuk menangani pesawat televisi mereka, demi mendapat informasi tentang kondisi terbaru seputar perang atau kebijakan baru Saddam Hussein.
Satelitte diam2 jatuh hati pada seorang gadis pengungsi Kurdi  yang hidup dengan kakaknya (yang lengannya buntung terkena ranjau) dan adek bayinya (yang matanya buta). Demikian keras ia berusaha mendekati gadis itu namun sang gadis seolah menanggapinya dengan sikap yang dingin. Dan ceritapun berkembang hingga akhirnya diketahui mengapa gadis itu seolah begitu "kejam" dengan sering menampar adiknya, meninggalkannya sendirian, bahkan berusaha membunuhnya! Dan bagaimana kesabaran sang kakak yang berlengan buntung (namun dikaruniai kemampuan supranatural) dalam mengasuh adik yang sangat dicintainya itu. Dan bagaimana ketulusan hati Satelitte membantu gadis yang sangat diidamkannya dengan akhir cerita yang begitu ekstrim…tonton dan syukurilah bahwa semiskin-miskinnya negara berkembang, di Indonesia anak-anak tak harus bermain dan bergelut dengan sesuatu yang salah sentuh sedikit saja langsung BOOOOOOOOOOOM!
 
 

My Movie Review : CAPOTE

 
 
"Bagi saya, film ini mengajak kita memahami sebuah alur cerita melalui bahasa tubuh, cool! Dan sangat recomended. Warning bagi para pencari hiburan sejati, film ini bakalan sangat tidak menghibur! Tapi bagi para penggemar kacamata…hahahaha, maksud saya para penggemar dan pencari sudut pandang, its very very pretty cool!". ****
 
Kisah tentang tragedi pembunuhan sadis sebuah keluarga yang tinggal di sebuah daerah terpencil di negeri Kansas dengan setting tahun 1959. Dan cerita berkembang seputar upaya polisi mengungkap siapa pelaku pembunuhan tersebut. Truman Capote (Philip Seymour Hoffman) seorang jurnalis dan penulis buku terkenal sangat tertarik untuk mengangkat kisah pembunuhan tersebut. Dengan ditemani asisten wanitanya yang setia, Capote melakukan investigasi selama bertahun-tahun di lokasi tersebut demi menyelesaikan bahan penulisan untuk bukunya.
Yang terkesan menonjol dalam film ini justru bukan perkara pembunuhannya, melainkan karakter Capote yang bisa disebut "Pria Feminin", alias seorang Gay yang berperan sebagai wanita. Gaya bicaranya, gerak tubuh, dan pembawaannya yang khas-lah yang justru mampu mengantar kita memahami jalan cerita film ini. Ketika Capote menjadi sangat tertarik dan antusias untuk membantu atau lebih tepatnya bersimpati kepada salah satu dari kedua pelaku pembunuhan, yang ternyata juga memiliki karakter yang hampir serupa dengannya : seorang pria Feminin!.
Capote memutuskan untuk terus berusaha membantu kedua pelaku dengan mencarikan mereka pengacara yang hebat. Hal itu dilakukannya atas dasar simpati, dan atas dasar kepentingannya menyelesaikan karyanya. Dan segalanya berbalik 180 derajat ketika Capote akhirnya mendengar pengakuan jujur pelaku tentang bagaimana pembunuhan itu bisa terjadi.
Penyusunan cerita dengan latar belakang yang begitu mengambang…lewat begitu saja apa yang dinanti nanti pemirsa untuk mengetahui alasan yang cukup kuat tentang pembunuhan itu, kalah dengan kuatnya karakter Capote mendominasi penjiwaan dalam film ini.